Pertanian Vertikal Kota Terbesar Dunia Diresmikan

Gedung pencakar langit kaca yang dipenuhi tanaman hijau subur di setiap lantainya di tengah kota modern

Pertanian Vertikal Kota Terbesar Dunia Diresmikan

Gurun pasir Uni Emirat Arab kembali menjadi saksi inovasi dunia. Hari ini, pemerintah Dubai meresmikan operasional penuh “Green Tower One”. Ini adalah fasilitas Pertanian Vertikal Kota terbesar dan tercanggih di dunia. Gedung pencakar langit setinggi 50 lantai ini tidak berisi kantor atau apartemen. Sebaliknya, ia berisi jutaan tanaman pangan yang tumbuh subur tanpa tanah dan sinar matahari langsung.

Proyek dahlia77 ini adalah jawaban atas kerentanan rantai pasok pangan global. Selama ini, Dubai mengimpor 85 persen kebutuhan pangannya. Pandemi dan konflik geopolitik sering kali mengganggu pasokan tersebut. Oleh karena itu, kemandirian pangan menjadi prioritas keamanan nasional. Pertanian Vertikal Kota ini mampu memproduksi 3.000 ton sayuran hijau dan buah-buahan setiap hari.

Teknologi yang digunakan adalah aeroponik tingkat lanjut. Akar tanaman menggantung di udara dan disemprot kabut nutrisi secara berkala. Metode ini menggunakan air 95 persen lebih sedikit dibandingkan pertanian konvensional. Selain itu, karena berada di lingkungan tertutup yang steril, tidak diperlukan pestisida sama sekali. Hasilnya adalah produk organik murni yang siap makan tanpa perlu dicuci.

Efisiensi Energi dan Kecerdasan Buatan

Tantangan utama pertanian dalam ruangan adalah energi. Lampu LED penumbuh tanaman (grow lights) memakan listrik sangat besar. Namun, Green Tower One menggunakan panel surya transparan di seluruh dinding luarnya. Panel ini menyerap spektrum cahaya matahari yang tidak dibutuhkan tanaman untuk diubah menjadi listrik. Sisa energinya disuplai oleh pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah yang bersih.

Seluruh operasional gedung dikendalikan oleh “Agri-Brain”, sebuah sistem kecerdasan buatan pusat. Sensor-sensor memantau suhu, kelembapan, dan kadar CO2 setiap detik. Jika ada satu tanaman yang sakit, kamera robotik akan mendeteksinya. Lalu, lengan robot akan mencabut tanaman tersebut sebelum penyakit menyebar. Dengan demikian, gagal panen bisa dihindari hampir sepenuhnya.

Jenis tanaman yang ditanam sangat beragam. Lantai bawah didedikasikan untuk sayuran daun seperti selada, bayam, dan kangkung. Lantai tengah untuk buah-buahan kecil seperti stroberi, tomat ceri, dan cabai. Sementara itu, lantai atas sedang diuji coba untuk tanaman pokok seperti gandum kerdil dan kentang aeroponik. Jika sukses, ini akan menjadi revolusi karbohidrat dunia.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Harga sayuran dari Pertanian Vertikal Kota ini sangat kompetitif. Karena diproduksi di tengah kota, biaya transportasi menjadi nol. Truk-truk pengirim sayur dari luar negeri tidak lagi diperlukan. Jejak karbon logistik pangan Dubai turun drastis. Selain itu, kesegaran produk terjamin. Sayur yang dipanen pagi hari sudah bisa ada di piring konsumen saat makan siang.

Fasilitas ini juga membuka lapangan kerja baru. Profesi “petani kota” kini menjadi pekerjaan berteknologi tinggi. Mereka bukan lagi mencangkul tanah di bawah terik matahari. Melainkan, mereka adalah analis data dan teknisi robotika yang bekerja di ruangan ber-AC dengan jas lab putih. Universitas lokal mulai membuka jurusan khusus Agroteknologi Urban untuk memenuhi permintaan tenaga kerja ini.

Model bisnis ini menarik minat investor global. SoftBank dan dana kekayaan negara Arab Saudi telah menyuntikkan modal besar untuk membangun sepuluh menara serupa di seluruh Timur Tengah. Bahkan, Singapura dan Tokyo yang lahan pertaniannya sempit juga segera mengadopsi desain Green Tower One.

Masa Depan Pangan Dunia

Kritikus berpendapat bahwa teknologi ini tidak bisa menggantikan pertanian tradisional sepenuhnya. Gandum, jagung, dan beras masih butuh lahan luas agar ekonomis. Namun, pendukungnya berargumen lain. Pertanian Vertikal Kota membebaskan lahan desa untuk dikembalikan menjadi hutan. Jika kebutuhan sayur kota bisa dipenuhi sendiri, tekanan deforestasi di pedesaan akan berkurang.

Perubahan iklim membuat cuaca makin tidak menentu. Banjir dan kekeringan sering menghancurkan panen di ladang terbuka. Sebaliknya, di dalam gedung Pertanian Vertikal Kota, cuaca selalu sempurna. Musim panen terjadi 365 hari setahun. Ketahanan pangan kota tidak lagi bergantung pada belas kasihan alam.

Kesimpulannya, pertanian telah kembali ke tempat manusia berkumpul. Ribuan tahun lalu kita mulai bertani di sekitar pemukiman. Revolusi industri memisahkan kota dari sumber makanannya. Kini, teknologi menyatukan mereka kembali. Pertanian Vertikal Kota adalah simbol harmoni baru antara beton dan klorofil. Kita bisa memberi makan populasi dunia yang terus bertambah tanpa harus merusak satu inchi pun hutan tersisa.

Post Comment